Peta Perjalanan Hidup

roadmap to holy land

Sebut saja namanya pak Hasyim, beliau adalah mitra baru saya. Kami bersepakat membuka sebuah “kedai” dengan tampilan yang agak berbeda di kota Baturaja, Sumatera Selatan. Pak Hasyim, mantan CEO di sebuah perusahaan IT multinasional di Jakarta, dan memutuskan pensiun dan membangun kota kelahirannya : mumpung masih ada tenaga, katanya. Kini berbagai bisnis dirambahnya mulai dari distributor minyak tanah, hingga tambang batubara.

Beliau agak surprise (walau menurut saya biasa saja), ketika melihat saya menenteng peta “print out” jalur darat Sumatera. Saya bilang : kalau tidak bawa peta, saya tak punya cukup gambaran berapa kota yang masih harus saya lalui, berapa jarak dan berapa lama kira-kira saya akan sampai ke Baturaja.

Katanya, banyak orang “kita” malas baca peta, mereka lebih suka bertanya.

Sambungnya lagi, tak cuma dalam perjalanan saja kita harus bawa Peta, dalam hidup juga harus punya Peta. Wah, pikir saya, ketemu dosen Universitas Dunia Nyata lagi nih… Alhamdulillah.

Lalu mulailah beliau berkata-kata….

Banyak diantara kita tak tahu ke mana hidup akan diarahkan. Karena tak punya Peta. Bayangkan katanya, perjalanan sembilan jam dari Bakauheni ke Baturaja saja kita melalui beberapa kota, dengan jarak tiap kota yang berbeda, waktu tempuh yang berbeda dan medan jalan yang beragam. Dengan peta, kita akan terbantu memperkirakan berapa waktu ditempuh, di mana kita bisa beristirahat untuk melepas lelah dan kapan akan sampai di sana.

Itu baru perjalanan sembilan jam. Bagaimana dengan hidup kita? Yang mengarungi perjalanan puluhan tahun. Maka –katanya- sukses itu bukan tujuan, tapi perjalanan.

Merenungkan kata-katanya, saya diam-diam membenarkan dalam hati. Banyak dari kita –katakanlah yang bekerja di kantor- berangkat dan pulang hanya sebagai rutinitas belaka. Berangkat jam 7 pagi untuk kemudian pulang jam 6 sore, sisanya hanya menunggu gaji di akhir bulan (yang kadang cukup, tapi lebih sering tak cukupnya).

Rutinitas itu membuat kita lupa membuat peta perjalanan hidup. Atau sebaliknya, lupa membuat peta perjalanan hidup, membuat kita hidup terkondisi dalam rutinitas : mengerjakan hal yang sama, bertahun-tahun, dengan hasil akhir yang kurang lebih sama. Kita tak terbayang, dalam satu atau dua tahun ke depan kita harus jadi apa, dalam sepuluh tahun ke depan kita harus bawa biduk rumah tangga kita ke arah mana. Di mana saat untuk bekerja keras (memacu pedal gas), mana kapan harus berhenti mendinginkan mesin.

Maka-kata beliau- segera buatlah peta perjalanan hidup, yang kata mas Jamil Azzaini, Proposal Hidup atau Bintang Terang. Anggap saat ini adalah titik nol, maka titik satu tahun depan kita harus sampai dimana, dengan jabatan/fungsi apa dengan gaji atau penghasilan berapa…demikian juga 5-10 tahun lagi. Selain jarak, juga ada target atau tujuan.

Tapi -imbuhnya- jangan pula terjebak oleh Peta Buta. Kita tahu apa yang kita inginkan (alias target dan tujuan), tapi dalam peta itu tak tercantum jarak dan jalur cara mencapai tujuan itu. Dan banyak di antara kita yang terjebak oleh peta buta ini. Pengen punya jabatan tinggi, karena tak tahu “jarak dan jalur”-nya, akhirnya ambil jalur singkat : ke dukun, atau pengen punya barang duniawi yang hebat, ambil jalan pintas : korupsi.

Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Begitu katanya. Karena dunia terus berputar, tak berhenti dalamrutinitas yang sama. Apalagi anda yang masih muda, mumpung masih ada tenaga untuk mencapai etape hidup berikutnya. Segera buat Peta Hidup Anda..

Oleh Basri Adhi.
Di ambil dari milis IYe!
indonesia-young-entrepreneurship@yahoogroups.com

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: